FOTO KEGIATAN

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini129
mod_vvisit_counterKemarin281
mod_vvisit_counterMinggu ini129
mod_vvisit_counterMinggu lalu1454
mod_vvisit_counterBulan ini4115
mod_vvisit_counterBulan lalu4959
mod_vvisit_counterTotal44348

Ucapan Selamat

Selamat Kepada Komite Komunitas Tangerang
Yang telah menyelesaikan penyusunan serta menyerahkan naskah Akademik dan Draft Raperda Jaminan Kesehatan Tangerang (JKT) ke DPRD Kabupaten Tangerang

Side Bar Link

KID
BERITA DEMOKRASI
SEKOLAH DEMOKRASI PAPUA
SEKOLAH DEMOKRASI ACEH UTARA
SEKOLAH DEMOKRASI SANGGAU
SEKOLAH DEMOKRASI PANGKEP
Dari Skholé Hingga Sekolah PDF Cetak Surel
Rabu, 05 Oktober 2011 17:04
      Dilihat dari aspek hubungannya dengan kekuasaan negara, sekolah dapat juga berfungsi sebagai alat kontrol politik. Karena itulah, tokoh kependidikan sekelas Neil Postman dan Charles Weingartner menyebut kegiatan pengajaran sebagai subversif29 karena seorang pengajar mestinya memberikan penyadaran kepada para pembelajar bahwa—seperti dikatakan Murray N. Rothbard—sistem persekolahan wajib sebagaimana didukung pemerintah dilaksanakan bukan atas dasar semangat mementingkan orang lain (altruisme), melainkan atas keinginan untuk menggiring rakyat menuju pola yang diinginkan oleh penguasa.30 Artinya, apa yang dipahami oleh rakyat sebagai tujuan pendidikan bisa berbeda dengan tujuan pemerintah dalam menyelenggarakan pendidikan untuk rakyat.
      Dengan demikian, agar pendidikan menjadi bermakna, para pembelajar, walisiswa, para guru, dan pengatur kebijakan pendidikan harus mempunyai hikayat kebudayaan yang sama (istilah Neil Postman: common narrative). Hikayat kebudayaan ini sangat penting karena ia memberikan semacam identitas personal, rasa hidup bermasyarakat, basis bagi perilaku moral, serta penjelasan bagi apa yang tak mungkin diketaui. Penerapan pendidikan umum untuk rakyat tidak hanya membutuhkan hikayat bersama, melainkan juga tiadanya hikayat yang bisa mengarah kepada pengasingan atau perpecahan. Hikayat bersama ini, dalam wacana kependidikan, berada dalam ranah metafisika pendidikan yang berujung pada tujuan pendidikan.
      Ini adalah bagian dari argumen yang diajukan oleh Postman dalam bukunya The End of Education31. Menurutnya, masalah kependidikan mempunyai dua dimensi. Yang pertama adalah aspek rekayasa yang membahas tentang cara-cara pembelajar menjalani pendidikan. Yang kedua adalah aspek metafisika yang mendasari tujuan atau misi pendidikan. Masih menurut Postman, perdebatan tentang kependidikan—khususnya di Amerika—terlalu berkutat pada aspek rekayasa: kurikulum, metode pengajaran, pengujian yang terstandardisasi, penyertaan teknologi, dsb., dan kurang mempertimbangkan aspek metafisikanya. Sampai-sampai, seperti mengomel, Neil Postman mengatakan, sebagaimana disiratkan dalam judul bukunya,32 “tanpa tujuan pendidikan yang transenden dan terhormat, lebih baik kita segera mengakhirinya” (”without a transcendent and honorable purpose schooling must reach its finish, the sooner we are done with it, the better”).33
      Postman juga menyebutkan tentang “sesembahan palsu” (false gods) pendidikan modern, yaitu Manfaat Ekonomis, Konsumerisme, Teknologi, dan Multikulturalisme. Dewa Manfaat Ekonomi mengajarkan kepada anak-anak: “jika kalian belajar dengan baik di sekolah, menyelesaikan tugas dan PR, mendapat nilai bagus dalam ujian, mematuhi peraturan, maka kamu akan mendapat pekerjaan dengan gaji besar nantinya”. Dewa Konsumerisme mengajarkan: “siapa yang paling lengkap peralatan sekolahnya, dialah yang paling berhasil”. Dewa Teknologi menipu setiap peserta didik bahwa setiap orang bisa mempunyai akses yang sama terhadap teknologi dan bahwa teknologi akan memberikan kesempatan belajar yang sama baik kepada yang kaya maupun yang miskin. Dewa Multikulturalisme (lebih tepat disebut Dewa Tribalisme) mengajarkan bahwa kebaikan kebaikan sudah sebati dengan ras non-kulitputih, terutama mereka yang telah menjadi korban hegemoni kulitputih.34 “Dewa” yang terakhir ini, dalam konteks Indonesia, tentu harus ditafsirkan berbeda.
      Sebagai ganti “sesembahan palsu” tersebut, Postman mengajukan lima hikayat yang menurutnya bisa memperbaiki tujuan dan proses pendidikan, yaitu “Perahu Bumi” (manusia sebagai penjaga planet), “Malaikat yang Jatuh” (sejarah sebagai serangkaian kesalahan dan koreksi), “Eksperimen Amerika” (negara sebagai tandatanya abadi yang menggiurkan), “Hukum Keanekaan” (keseragaman adalah musuh kreativitas dan vitalitas), dan “Pemintal Kata” (menggunakan bahasa untuk menciptakan dunia). Bukan tempatnya untuk menguraikan hikayat-hikayat ini dalam tulisan yang mestinya singkat ini. Yang pasti, Postman telah mengajukan berbagai inovasi yang bisa membuat banyak “pendidik” geram: buku-buku teks harus dibuang; arkeologi, astronomi, dan antropologi harus menjadi prioritas utama; semua agama harus dimasukkan dalam kurikulum; patriotisme harus digalakkan; para guru harus mampu bertukar mata-pelajaran; dan setiap mata-pelajaran harus disampaikan secara historis.35 Pembelajaran Tanpa Sekolah
      Membaca dan mempelajari berbagai gagasan yang dilontarkan oleh para tokoh pendidikan itu bisa membuat orang keblinger. Bersikap eklektik (mengambil yang terbaik dari setiap sumber) kerap tidak juga dapat menyelesaikan permasalahan yang kita hadapi. Bila pembelajaran kemudian menjadi sesuatu yang membebani dan terasa merintangi kebahagiaan bahkan mengarah kepada gangguan kesehatan mental, maka bisa jadi itu adalah gejala over-edukasi.
      Sekolah sebagai suatu lembaga kependidikan kerap dianggap sebagai manifestasi dari hakikat pendidikan itu sendiri, sehingga “pendidikan tanpa sekolah” akan dianggap sebagai gagasan konyol. Padahal, melihat dampak buruk praktek pendidikan modern terhadap kemanusiaan, banyak pakar telah mengusulkan untuk membubarkan lembaga persekolahan. Kalaupun tidak membubarkan, banyak pakar berpendapat untuk, setidaknya, memakzulkan sekolah dari posisinya yang bagai dewa itu. Berbagai efek negatif yang terjadi di lembaga persekolahan itu di antaranya adalah: sekolah mencampuradukkan pengajaran dengan pembelajaran, nilai dengan pendidikan, ijazah dengan kemampuan, kehadiran dengan pencapaian, serta proses dengan substansi. Sekolah menghambat kemampuan dan keinginan seseorang untuk swa-ajar (self-learn), menyelewengkan dorongan alami untuk tumbuh serta belajar mandiri dan menggantikannya dengan kecanduan akan instruksi.36
      Sistem persekolahan konvensional sekarang tampaknya memegang posisi dan peran sebagaimana pernah dinikmati oleh Gereja pada masa kekuasaannya sepanjang sejarah. Di dalamnya, kita bisa menengarai bagaimana mitos-mitos muncul, berkembang, disebarkan, dipertahankan, dan dijadikan sebagai ritus yang mengaburkan batas antara dongeng dan kenyataan. Kita juga bisa mengamati bagaimana mitos-mitos itu telah begitu meresap ke bawah hingga, tanpa sadar, telah didukung sepenuhnya oleh masyarakat. Tentu saja, banyak kritik juga telah dilontarkan. Sayangnya, kritik ideologis atau aksi sosial semata tak akan bisa melahirkan sebuah masyarakat baru dengan pola pemikiran baru. Hanya kesadaran untuk mementahkan dan melepaskan diri dari ritus sosial utama yang menguasai hajat hidup, pikiran, dan hati suatu masyarakat, sekaligus aksi untuk merombak ritus sosial tersebutlah yang bisa melahirkan sebuah perubahan radikal.
      Di sekolah, orang digiring untuk percaya kepada Mitos Konsumsi Tanpahenti37 yang didasarkan pada keyakinan bahwa sebuah proses pasti akan menghasilkan nilai yang sebanding dan bahwa produksi sesuatu akan diikuti oleh kebutuhan akan sesuatu tersebut. Sekolah mengajarkan bahwa pengajaran akan menghasilkan pembelajaran dan kebutuhan akan pembelajaran akan menghasilkan kebutuhan akan sekolah. Sekali kebutuhan akan sekolah terbentuk, segala kegiatan autodidak menjadi direndahkan. Alhasil, segala kegiatan pembelajaran di luar sekolah menjadi dicurigai sebagai kurang bermutu. Di sekolah kita diajarkan bahwa pembelajaran yang sebenarnya hanya terjadi di sekolah; bahwa pembelajaran yang bermutu sebanding dengan tingkat kehadiran; bahwa nilai pembelajaran bertambah sesuai dengan semakin banyaknya materi-ajar; dan bahwa semua nilai itu bisa diukur dan dicatat sebagai nilai rapor, peringkat, dan ijazah.
      Bukan hanya hasil pembelajaran yang bisa diukur. Sekolah juga menggiring kita untuk memasuki dunia kuantitas di mana semua hal bisa diukur—termasuk imajinasi, jiwa, dan masadepan seorang pembelajar. Sekolah membuat blok-blok materi-ajar dan memasukkannya ke dalam kurikulum untuk memudahkan kuantifikasi berdasarkan standar ukur nasional atau internasional. Setiap anak didik kemudian didesak dan dijejalkan untuk masuk ke dalam blok-blok itu agar bisa diukur nilainya. Anak-anak yang telah ditundukkan oleh standar kuantifikasi itu kemudian akan berkembang menjadi individu-individu dengan mentalitas serupa. Mereka akan memasukkan siapa saja ke dalam blok-blok itu untuk mengukurnya, hingga setiap orang berada dalam bloknya dan mendapatkan nilainya masing-masing. Dengan mentalitas kuantifikasi ini, segala macam gejala kehidupan yang tidak bisa diukur akan diabaikan. Apa yang tidak bisa diukur menjadi kurang penting, sekunder, bahkan asing. Mentalitas ini kemudian akan membuat orang menerima segala bentuk pemeringkatan. Ada peringkat untuk kemajuan ekonomi bangsa-bangsa, peringkat untuk kecerdasan bayi, peringkat untuk demokratisasi, peringkat untuk kecerdasan emosional, atau peringkat kesejahteraan bangsa berdasarkan kuantitas konsumsinya.
      Berbagai kritik terhadap sistem persekolahan mestinya membuat orang bertanya: jika sekolah sudah berkembang menjadi semacam dewa jahat seperti itu, lantas apa yang harus dan bisa dilakukan? Apakah yang harus diperbaiki? Ataukah lembaga persekolahan dibubarkan saja? Atau, adakah bentuk pembelajaran lain yang bermutu, lebih memanusiakan dan memerdekakan, yang samasekali tidak bergantung kepada sekolah?
      Dalam kenyataan hidup sehari-hari, bila kita tanyakan kepada seseorang tentang bagaimana mereka mendapatkan pengetauan dan nilai-nilai yang paling berarti dalam hidup mereka, kemungkinan besar jawabannya bukanlah sekolah. Mereka mungkin mendapatkannya dari obrolan dengan teman, orangtua, kekasih, televisi, bacaan, kejadian di jalanan, atau khutbah di masjid. Atau mereka mungkin mendapatkannya ketika terlibat dalam gank anak-anak punk, pecinta musik underground, masuk ke toko kue, belanja di pasar, atau masuk kantor sebuah pabrik. Jadi, bentuk pembelajaran alternatif yang tidak bergantung kepada sekolah ternyata bisa didapatkan melalui hubungan pembelajaran langsung antara manusia dan lingkungan hidupnya. Tentu saja, untuk memaksimalkan mutu pembelajaran ini, berbagai hal yang berkenaan dengan mentalitas, gaya hidup, kondisi sosial, dan filsafat kehidupan juga harus dibenahi.
      Poinnya adalah, pembelajaran tanpa sekolah38—bahkan dunia tanpa sekolah39—adalah sangat mungkin karena, pada prinsipnya, pendidikan atau pembelajaran adalah sebuah impuls alami yang didapatkan sejak lahir, dan dunia ini kaya dengan materi pelajaran untuk dipelajari, juga teka-teki untuk dipecahkan. 40 Kita bisa lebih mencurahkan perhatian kita kepada pembelajaran mandiri (self-motivated learning) ketimbang mendesak anak-anak agar menyesuaikan waktu dan keinginan untuk belajar. Kita bisa mengarahkan anak-anak untuk menyusun relasi-relasi positif langsung dengan semesta ketimbang terus menerus menjejalkan berbagai program pembelajaran melalui sekolah. Kenyataannyalah bahwa belajar adalah kegiatan manusia yang paling sedikit membutuhkan campur-tangan orang lain. Bagian terbesar dari kegiatan pembelajaran justru terjadi di luar institusi yang memuja instruksi, melainkan hasil dari partisipasi tanpa-hambatan dalam sebuah suasana yang bermakna. Kebanyakan kita bisa belajar sebaik-baiknya dengan “berada bersama” dengan bahan pembelajaran yang kita pilih sendiri, bukan melalui manipulasi dan perencanaan yang rumit serta berbelit-belit.

Kembali ke Makna Awal
      Pada awalnya, kegiatan pembelajaran adalah sesuatu yang alami, tidak terikat bentuk41, dan digunakan sekadar untuk mengisi waktu luang. Ini tentu saja telah jauh bergeser sekarang ketika para anak didik digelandang untuk belajar dalam ruangan-ruangan “pembibitan” yang mirip penjara. Sebagaimana awalnya dulu, pembelajaran mestinya dilakukan di lingkungan yang tidak menekan, di mana fokus utamanya adalah menyiapkan diri pembelajar untuk mengaktualkan potensi karakter dan kemampuannya secara utuh sebelum menjadi bagian dari dunia dewasa. Pembelajar hanya mempelajari apa yang mereka inginkan, saat mereka menginginkannya, dengan cara yang mereka inginkan, di tempat yang mereka inginkan, untuk alasan mereka sendiri. Pembelajaran diarahkan kepada si pembelajar, sementara pendamping dicari sesuai keinginan dan kebutuhan si pembelajar.
      Pembelajaran dalam makna awal ini tentu saja lebih radikal ketimbang sekadar mengejar target kecerdasan formal karena pembelajaran tidak dimaksudkan untuk sekadar menciptakan anak menjadi cerdas, melainkan juga memberi kesempatan, dorongan, dan motivasi untuk berani mengambil sikap. Dengan demikian, anak didik benar-benar mandiri, baik dalam hal berpikir, bersikap, maupun bertindak.

***
      “Dongeng” di atas disampaikan Guru Uban pada minggu berikutnya. Para siswa, seperti pada setiap jam pelajaran Guru Uban, mengikutinya dengan santai namun seksama. Setelah selesai, ada yang bertahan bergayut di benak anak-anak itu.
      “Ah, ulasan Guru Uban tentang sekolah mengingatkanku kepada “Sekolah”42—setan jahat yang disembah bangsa Sahuagin dalam game Dungeons & Dragons kesukaanku….”, batin Aldy.

*****
a Dengan segala hormat kepada Roem Topatimasang, yang bukunya, Sekolah Itu Candu (INSISTPress, I, Juli 2007), telah mengilhamiku untuk menulis catatan ini—khususnya Bab 1, “Sekolah: dari Athena ke Cuernavaca”.

b Juga dengan segala hormat kepada E.S. Ito karena kupinjam Guru Uban—tokoh dalam salah satu novelnya, Rahasia Meede—sebagai narator untuk catatan ini plus enam paragraf dalam novelnya yang kukutip penuh sebagai pengantar untuk sub-bab “Paulo Freire dan Neil Postman”.

c Terimakasih untuk RNI yang telah membaca, mengoreksi, dan memberi masukan di beberapa bagian sebelum tulisan ini diunggah.

28Majalah Basis, No. 01–02, Tahun ke-50, Januari-Februari 2001: “Edisi Paulo Freire”, p. 15–16; 31.

29 Neil Postman dan Charles Weingartner, Teaching as a Subversive Activity (Dell, 1969).

30 http://en.wikipedia.org/wiki/Anti-schooling_activism

31 Neil Postman, The End of Education: Redefining the Value of School (Alfred A. Knopf, 1995).

32 Kata end bisa berarti “tujuan” sekaligus “akhir”.

33 http://www.scottlondon.com/reviews/postman2.html

34 Neil Postman, Op. cit., p. 27–53.

35 http://home.earthlink.net/~elundegaard/nf-endeducation.htm

36 Ivan Illich, Deschooling Society (Marion Boyars, July 2000). Teks lengkap dapat diunduh di http://www.preservenet.com/theory/Illich/Deschooling/intro.html

37 Ivan Illich, “Schooling: The Ritual Progress”, The New York Review of Books, Volume 15, Number 10–December 3, 1970. Bisa diunduh di http://ournature.org/~Enovembre/illich/1970_Schooling_The_Ritual_of_Progress.html

38 Mary Griffith, Belajar Tanpa Sekolah: Bagaimana Memanfaatkan Seluruh Dunia Sebagai Ruang Kelas Anak Anda (Nuansa Cendekia Bandung, I, 2007).

39 M. Izza Ahsin, Dunia Tanpa Sekolah: Kisah Nyata Seorang Anak Usia 15 Tahun yang Terpenjara oleh Sekolah Formal (Read!, I, 2007).

40 Mary Griffith, Op. cit., p. 40.

41 Dalam terminologi sistem pendidikan nasional dikenal pemisahan antara jalur pendidikan formal, nonformal, dan informal. Ketiga kata tersebut terikat pada kata “formal” yang berasal dari bahasa Latin forma yang berarti “bentuk, cetakan, wadah”.

42 Dalam permainan (game) Dungeons & Dragons, Sekolah adalah dewa yang disembah oleh ras Sahuagin. Bentuknya adalah seekor ikan hiu putih sepanjang 35 kaki. Realm-nya adalah Sheyruushk yang terletak di Outer Plane dari Baator. Para pendeta Sekolah mengenakan warna abu-abu-putih. Binatang sucinya adalah ikan hiu. Ia disembah dalam gua-gua dalam pasang-surut dan pasang-naik. Ras Sahuagin mempersembahkan musuh-musuh mereka kepadanya. http://id.wikipedia.org/wiki/Sekolah_Dungeons_&_Dragons

 

Inzan Rumazha, adalah penggiat pendidikan berbasis komunitas di Balaraja, Tangerang.