FOTO KEGIATAN

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini129
mod_vvisit_counterKemarin281
mod_vvisit_counterMinggu ini129
mod_vvisit_counterMinggu lalu1454
mod_vvisit_counterBulan ini4115
mod_vvisit_counterBulan lalu4959
mod_vvisit_counterTotal44348

Ucapan Selamat

Selamat Kepada Komite Komunitas Tangerang
Yang telah menyelesaikan penyusunan serta menyerahkan naskah Akademik dan Draft Raperda Jaminan Kesehatan Tangerang (JKT) ke DPRD Kabupaten Tangerang

Side Bar Link

KID
BERITA DEMOKRASI
SEKOLAH DEMOKRASI PAPUA
SEKOLAH DEMOKRASI ACEH UTARA
SEKOLAH DEMOKRASI SANGGAU
SEKOLAH DEMOKRASI PANGKEP
Antiklimaks Nation And Character Building di Indonesia PDF Cetak Surel
Jumat, 07 Oktober 2011 20:07
Femonena ini kemudian membuat negera-negara bekas jajahan di Asia-Afrika membentuk Blok Ke-3 atau gerakan Non-Blok. Berbeda dengan gerakan Blok Barat dan Blok Timur, gerakan Non-Blok justru memiliki resep ingin mengubah kehidupan manusia di dunia dengan tatanan baru, yang lebih adil dan merata demi terwujudnya dunia yang aman, damai, adil, dan sejahtera. Di sinilah Indonesia tampil sebagai pendekar gerakan Non-Blok yang santer bersuara di dunia internasional, bahkan tak jarang membuat jengkel negara Blok Barat seperti Amerika Serikat.

Bukan lantaran suara Seokarno yang lantang, tetapi diawal kemerdekaan Indonesia, para founding father telah menanamkan apa yang disebut nation and characte building (pembangunan karakter bangsa) kepada seluruh anak bangsa. Melalui pembanguan karakter inilah bangsa Indonesia mulai disegani. Ada empat gagasan awal pembangunan karakter bangsa ketika itu. Pertama, kemandirian (self-relience), atau menurut menurut istilah Soekarno disebut “BERDIKARI” (berdiri di atas kaki sendiri). Dari awal, Soekarno sangat yakni bahwa dengan kekeyaan alam yang melimpah ruah, Indonesia bisa menjadi negara yang mandiri dan mampu mewujudkan apa yang disebut dengan kemakmuran dan kesejahteraan.

Kedua, demokrasi (democracy), atau kedaulatan rakyat sebagai ganti sistem kolonialis. Warisan feodelistik yang bertengger di Indonesia harus secepatnya diganti dengan sistem yang demokratis, berkeadilan, dan partisipatif. Pada titik ini sebenarnya Soekarno ingin mengajak masyarakat Indonesia ikut serta dalam proses politik dan pengambilan keputusan yang berkaitan langsung dengan kepentingan nasional. Ketiga, persatuan nasional (national unity). Dengan posisi Indonesia yang merupakan negara kepulauan sekaligus meliliki beragam etnis, budaya, agama, dan bahasa, maka persatuan nasional menjadi harga mati dalam proses mewujudkan pembanguan nasional.

Keempat, martabat internasional (bargaining positions). Indonesia tidak perlu mengorbankan martabat dan kedaulatannya sebagai bangsa yang merdeka untuk mendapatkan prestise, pengakuan dan wibawa di dunia internasional. Sikap menentang hegemoni suatu bangsa atas bangsa lainnya adalah sikap yang mendasari ide dasar “nation and character building.” Karena itulah, Seokarno menentang segala bentuk “penghisapan” suatu bangsa terhadap bangsa lain, serta menentang segala bentuk “neokolonialisme” dan “neoimperialisme.” Bagi Soekarno, Indonesia harus berani mengatakan “tidak” terhadap tekanan-tekanan politik yang tidak sesuai dengan “kepentingan nasional” dan “rasa keadilan” sebagai bangsa merdeka.

Karakter-karakter di atas sebenarnya secara implisit tertuang dalam butir-butir Pancasila. Pada titik inilah Pancasila menjadi nafas bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Bahkan, konon, pada masa pemerintahan Presiden John F Kennedy, negara yang paling ditakuti Amerika Serikat ialah Indonesia. Mengapa? Karena Indonesia memiliki ghirah nasionalisme yang sangat kuat, sebagai akibat penjelmaan bangunan teoretis konsepsi Pancasila. Menurut Kennedy, Pancasila merupakan sebuah ideologi besar, yang mampu mengobarkan semangat nasionalisme, sangat toleran, antikorupsi, saling menghargai, dan menjunjung tinggi perbedaan, serta sangat mengakomodasi persamaan.

Nasionalisme merupakan sarana untuk mengungkap jati diri bangsa yang nantinya berfungsi untuk penetapan identitas. Nasionalisme sebagai manifestasi kesadaran bernegara atau semangat bernegara. Soekarno pernah membedakan nasionalisme Barat dengan nasionalisme Indonesia. Menurutnya, nasionalisme Eropa ialah suatu sistem yang melahirkan kolonialisme serta imperialis yang bersifat menghisap, merampas, dan menjajah. Beda dengan nasionalisme Indonesia yang ingin terbebas dari penjajahan karena baginya nasionalisme sejati lahir karena semangat menuntut keadilan dan melawan penindasan. Sebab, ruh dari pancasila itu adalah nilai-nilai gotong royong dan kesetaraan.

Sebagaimana dikatakan filsuf politik kontemporer John Rawls (1993), kesetaraan adalah syarat penting bagi hidup bernegara sebagai suatu “sistem kerja sama sosial”. Karena pada dasarnya, kebiasaan untuk memandang dan memperlakukan orang lain setara itulah amanat penting dari Pancasila.


Sindrom Kapitalisme

Namun dalam perjalanannya, karakter bangsa yang dihembuskan oleh Soekarno lama-lama mengering dan tak terdengar gaungnya. Ini terjadi karena dalam menuju cita-cita tatanan dunia baru, negara-negara gerakan Non-Blok lebih dekat ke Blok Timur—karena Blok Timur anti kapitalisme-liberalisme. Tentu saja bangkitnya gerakan Non-Blok membuat Blok Barat menghadapi dua musuh. Mereka pun tidak tinggal diam. Salah satu negara Non-Blok yang potensial dan sering bertengger waktu itu adalah Indonesia.Dengan berbagai cara, Indonesia dihancurkan terlebih dulu, tepatnya tahun 1965. Dus, Soekarno akhirnya lengser. Di sinilah Indonesia kemudian memasuki alam baru, yakni kapitalisme-liberalisme.

Sejak saat itu karakter dan moral bangsa Indonesia pelan-pelan berubah. Kapitalisme-liberalisme pelan-pelan mengikis karakter dan perilaku bangsa Indonesia. Jiwa dan semangat Pancasila pelan-pelan dibikin luntur, kemudian semangat dagang, yang efisien, kreatif, dan kompetitif dipompakan di jiwa raga bangsa Indonesia. Jiwa dan semangat merebut kemerdekaan yang dulu dimiliki bangsa ini punah secara pelan tapi pasti, yakni berubah kearah oportunis yang terejawantah dalam model-model perebutan (hasil) kemerdekaan. Sehingga, melewati tahun 1970 karakter dan moral yang populis dan sosialis berubah kearah karakter materialistis-individualistis. Yang menyedihkan, perubahan sistem politik-ekonomi yang berwatak kapitalis-liberalis terus merambah ke berbagai jiwa birokrasi pemerintahan dan dunia usaha.

Investasi melahirkan regulasi, sementara regulasi melahirkan privatisasi. Di sinilah kemudian muncul apa yang disebut privatisasi, efisiensi, peningakatan produksi, bermuara ke pertumbuhan ekonomi. Tetapi bersamaan dengan itu, lahir pula penyakit birokrasi dan korupsi. Maka tahun-tahun selanjutnya korupsi dan demoralisasi merajalela dan membudaya.


Ciri Manusia Indonesia

Menyikapi fenomena itu, pada tanggal 6 April 1977, wartawan dan budayawan Mochtar Lubis berceramah di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Teks ceramahnya berjudul Manusia Indonesia; Sebuah Pertanggungan Jawab. Pesan ceramah Muchtar Lubis berisi tentang ciri-ciri manusia Indoenesia, yang lebih menonjolkan kejelekannya ketimbang baiknya. Sotak ceramah tersebut melahirkan kontroversi, bahkan pro dan kontra. Tetapi sebagai bahan studi, ceramah Mochtar justru mempunyai nilai tersendiri. Makalah ceramahnya kemudian dibukukan. Hingga kini buku karyanya dijadikan rujukan oleh sejumlah ahli sosiologi. Meski begitu, banyak pula pakar sosiologi yang tak setuju dengan pengamatan Mochtar Lubis tersebut.

da tujuh ciri orang Indonesia menurut Mochtar Lubis. Pertama, Mochtar Lubis menyebut orang Indonesia berwatak hipokrit, yakni senang berpura-pura, lain di muka lain di belakang, suka menyembunyikan yang dikehendaki, karena takut mendapat ganjaran yang merugikan dirinya. Kedua, orang Indonesia segan dan enggan bertanggungjawab atas perbuatannya, putusan dan pikirannya. Atau sering mengalihkan tanggungjawab tentang sesuatu kesalahan dan kegagalan kepada orang lain.

Ketiga, orang Indonesia berjiwa feodalis, senang memperhamba pihak yang lemah, senang dipuji, serta takut dan tidak suka dikritik. Keempat, orang Indonesia percaya pada takhyul dan senang mengkeramatkan sesuatu. Kelima, orang Indonesia berjiwa artistik dan sangat dekat dengan alam. Keenam, orang Indonesia mempunyai watak yang lemah serta kurang kuat mempertahankan keyakinannya sekalipun keyakinannya itu benar, alias suka meniru. Ketujuh, orang Indonesia kurang sabar, cepat cemburu, dan dengki.

Seperti dikatakan para pengamat, dari tujuh ciri manusia Indonesia di atas, hanya satu yang dianggap baik. Menurut Muctar Lubis, masuknya modal asing yang deras ke Indonesia sangat berpengaruh terhadap karakter dan perilaku bangsa. Ada perkembangan yang drastis ihwal ciri orang Indonesia pada tahun 1908, 1928, 1945 dengan tahun-tahun sekarang. Meski ciri-ciri tersebut tidak sepenuhnya benar dan kontroversi, tetapi banyak para sosiolog berasumsi bahwa apa yang dikatakan Muctar Lubis merupakan potret kondisi Indonesia saat itu.

Kini krisis karakter bangsa masih terus menjangkit Indonesia. Banyak masyarakat Indonesia yang sudah tidak bangga dengan bangsanya sendiri. Mengutip kalimat Mochtar Buchori, “Ungkapan character building kini sudah klise kosong, nyaris tidak bermakna. Meskipun diucapkan pemimpin, politisi, birokrat, pemimpin organisasi dan pendidikan, ungkapan ini tidak meninggalkan bekas apa-apa”.

)* Penulis adalah peserta Sekolah Demokrasi Tangerang Selatan Tahun 2011
Tulisan ini dimuat dijurnal Referensi, Edisi VII Tahun 2011