FOTO KEGIATAN

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini129
mod_vvisit_counterKemarin281
mod_vvisit_counterMinggu ini129
mod_vvisit_counterMinggu lalu1454
mod_vvisit_counterBulan ini4115
mod_vvisit_counterBulan lalu4959
mod_vvisit_counterTotal44348

Ucapan Selamat

Selamat Kepada Komite Komunitas Tangerang
Yang telah menyelesaikan penyusunan serta menyerahkan naskah Akademik dan Draft Raperda Jaminan Kesehatan Tangerang (JKT) ke DPRD Kabupaten Tangerang

Side Bar Link

KID
BERITA DEMOKRASI
SEKOLAH DEMOKRASI PAPUA
SEKOLAH DEMOKRASI ACEH UTARA
SEKOLAH DEMOKRASI SANGGAU
SEKOLAH DEMOKRASI PANGKEP
Bangun Visi Lingkungan Hidup PDF Cetak Surel
Selasa, 22 November 2011 17:04


Terdapat beragam persoalan lingkungan yang menjadi ancaman masyarakat di masa depan, seperti dijelaskan Sandra Postel dalam bukunya State of the World 1992: Lapisan ozon yang melindungi bumi telah makin menipis dua kali lipat lebih cepat dari pada yang diperkirakan para ilmuwan sebelumnya; sekurang-kurangnya 140 jenis tumbuh-tumbuhan dan hewan punah setiap harinya; tingkat karbon dioksida di atmosfer yang merupakan perangkap panas, sekarang 26 persen lebih tinggi dari pada konsentrasinya dalam zaman pra-industri; permukaan bumi cenderung lebih panas; Hutan-hutan lenyap dengan kecepatan sekitar 17 juta hektar per tahun; dan penduduk bumi bertambah sekitar 92 juta jiwa per tahunnya.  Saya kira buku ini tidak dipersiapkan mempropokasi para ilmuwan supaya turun ke jalan berdemontrasi, tetapi dia sedang mendeskripsi hasil risetnya tentang kondisi lingkungan hidup yang sedang mengalami perubahan.


Setidak-tidaknya dari berpikir environmental akan muncul kebijakan bagaimana mencari solusi untuk mengurangi tingkat emisi karbon yang dihasilkan kendaraan bermotor; mengurangi ketergantungan masyarakat pada bahan bakar minyak (BBM) di luar gas alam dengan mencarikan energy alternatif; ada kehendak merenovasi jaringan transportasi, perencanaan tata kota yang mengurangi pemakaian kendaraan mobil, distribusi anggaran untuk masyarakat desa, penciptaan lapangan kerja baru yang luas dan pemberdayaan keluarga kecil. Itu artinya, menurut Postel perlu peninjauan kembali tentang nilai-nilai dasar dan pengertian tentang apa yang dinamakan pem¬bangunan. Selama pembangunan dilihat dari perspektif pertumbahan ekonomi saja, akan beresiko bagi kerusakan ekologi.

BEBAN HUTANG
Tantangan Provinsi Banten ke depan selain masala sosial-ekonomi dan infrastrukur, juga  lingkungan hidup.  Kita tidak mungkin terus-menerus menggantungkan kehidupan melalui industrialisasi dan pembangunan ekonomi hanya dengan meminta belas kasihan pada alam secara murah dan gratis. Padahal alam sebagai lingkungan,  tempat kita hidup kondisinya kian rapuh akibat eksploitasi, deforestrasi dan beban daya dukung lingkungan yang makin berat. Selama ini pun “hutang” kita pada alam -- air yang kita minum dan ber-cuci, udara yang kita irup, hutan yang dijadikan sumber ekonomi dan pengadaan kayu untuk pemenuhan kebutuhan perumahan, pasir dan bebatuan untuk bahan material dll -- semuanya me¬rupakan “hutang” kita pada lingkungan yang tidak terhitung lagi banyaknya.  “Hutang-hutang” itu sebenarnya merupakan pin¬jaman pada generasi yang akan datang.


Sementara jumlah penduduk di Provinsi Banten terus bertamah sehingga kebutuhan terhadap anggaran pembangunan akan terus meningkat. Bagaimana pun menghadapi tantangan tersebut memerlukan konsep dasar yang dapat menjelaskan pemenuhan kebutuhan masyarakat, baik secara religius, sosial-ekonomi dan politik maupun dalam kaitannya dengan lingkungan hidup yang lestari. Seyogyanya dengan konsep dasar itu dapat mendorong perubahan berpikir, bertindak dan berke¬putusan untuk kebijakan alter-natif. Setidak-tidaknya dapat me¬ngurangi beban hutang kita pada generasi yang akan datang. Rasanya zalim jika kita tidak dapat mengembalikannya dalam bentuk investasi untuk mereka di masa depan, yang tentu tantangan dan kebutuhan hidupnya jauh lebih tinggi dan berat dari yang dapat kita bayangkan saat ini.


Selama ini pun telah banyak dosa lingkungan yang kita perbuat. Hutan di berbagai tempat gundul, sungai-sungai menderita kekeringan, sedimentasi -- akibat pembuangan sampah domestik dan tanah longsor--  selain juga pencemaran.  Kondisi sungai seperti ini tidak lagi menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi biota air dan jasad renik yang hidup di sekitarnya. Saya kira industri-industri tidak bisa disalahkan, karena telah memberikan pajak dan CSR kepada pemerintah yang nilainya miliaran rupiah setap tahun. Sumber masalahnya lagi-lagi kemauan politik pemerintah, baik bupati maupun gubernur yang perlu sejak awal memiliki komitmen terhadap kelestarian lingkingan hidup.

KEHANCURAN EKOLOGIS
Kebanyakan para pemimpin kita masih memandang bahwa perubahan lingkungan hidup hanya merupakan masalah kecil saja, dan cara mengatasinya pun cukup melalui gerakan sporadis – politis seperti gerakan penanaman sejuta pohon (Gerhan). Padahal yang ditanam tidak sejumlah itu. Ada juga gerakan penanaman pohon, tetapi bibitnya diambil dari wilayah setempat lalu dipindahkan ke tempat lain di wilayah itu juga.


Nyata pemimpin yang tidak environmentalis memandang rendah kehidupan makhluk lain sehingga akhirnya kita menghadapi kenyataan pemiskinan hayati (biodiversity). Mungkin masih sulit diterima bahwa di berbagai tempat telah terjadi kepunahan besar-besaran spesies. Rusaknya sistem ekologis, spesies dan gen plasma yang dahulu hidup bersama-sama secara aman dan nyaman,  kini sedang mengalami krisis dengan tingkat kecepatan yang sangat mengejutkan. John C. Ryan dalam salah satu artikelnya pernah mengatakan secara minimal 50.000 jenis spesies tidak bertulang ditentukan akan punah setiap tahunnya di hutan-hutan tropis yang habitatnya mengalami kerusakan. Makhluk besar dan kecil lenyap; kerusakan hutan membuat sedikitnya satu spesies binatang jenis burung, yang menyusui ataupun tanaman menuju kepunahan setiap harinya.


Mengapa lenyapnya seekor serangga, burung, sebatang pohon, atau sejenis spesies lainnya harus mencemaskan kita? Bagi biologiawan tidak aneh, karena telah memahami bahwa meskipun setiap spesies merupakan produk unik yang tidak tergantikan yang terbentuk dalam masa evolusi selama jutaan tahun, tetapi pengetahuan itu akan menjadi berharga di bidang studi ilmiahnya. Tetapi bagi kebanyakan orang alasan penting bagi pelestarian keanekaragaman hayati adalah bahwa setiap spesies sangat tergantung kepada makhluk yang lain dan bermanfaat untuk kesejahteraan masyarakat.


Seekor cacing kalung dahulu dikira tidak ada gunanya, atau bahkan merugikan, ternyata kini memagang peranan penting dalam perputaran ekologis bagi penyuburan lahan dan untuk penyembuhan penyakit sejenis typhus. Rayap yang terbunuh pestisida tidak lagi dapat mengisi tanah dengan hembusan udara. Binatang pemakan hewan lain yang terancam kepunahan tidak lagi dapat menahan perkembangan pengeret atau serangga, dll. Yang pasti kepunahan spesies dapat menimbulkan gangguan bagi keseimbangan lingkungan hidup. Sungguh keanekaragaman hayati secara fundamental sangat penting untuk segala sistem ekologis dan ekonomis sekaligus.


Namun kehancuran ekologis di hutan tropis, binatang-binatang kecil sejenis burung, am-pibia dan serangga paling rentan perubahan ekologis sehingga  tingkat kepunahannya amat tinggi dibandingkan seekor Badak Jawa. Hanya saja kita tidak banyak memahami hal ikhawal keh¬dupan makhluk itu. Seekor tawon  atau sebatang pohon yang tumbuh di suatu kawasan pada dasarnya sangat penting bagi kesejahteraan planet bumi. Tetapi pembongkarannya satu demi satu dari penunjang kehidupan itu mengandung resiko besar terhadap guncangan ekologi sehingga diderita jutaan makhluk hidup di dalamnya.


Karena itu ketahanan ekologis hanya mungkin terjaga bila ada kemauan politik pemerintah. Kita harus kembali belajar dari masyarakat  asli – yang keberadaannya tidak hanya merupkan fenomena atas kehendak alam dengan segala kearifannya – tetapi juga dari etika politik yang menjunjung tinggi norma-norma lingkungan hidup. Kita berharap Pilkada mendatang merupakan tipikal lahirnya pemimpin yang melahirkan kebijakan-kebijakan berbasis lingkungan hidup dan turun tangan untuk melestarikannya, bukan pemimpin yang berpotensi merusak lingkungan hidup.

Penulis adalah Ketua LSM PUSAKA Banten
sumber tulisan http://www.radarbanten.com/newversion/opini/3605-bangun-visi-lingkungan-hidup-.html